Juruketik.com – Perwakilan dari lima negara bertemu di Bogor untuk membahas masa depan keanekaragaman hayati dan lingkungan dalam The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB 2026) yang digelar SEAMEO Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP).
Konferensi internasional yang berlangsung di IPB International Convention Center (IICC), Bogor, 5–7 Oktober 2026 tersebut mempertemukan ilmuwan, pendidik, pembuat kebijakan, praktisi hingga pemangku kepentingan dari Indonesia, Filipina, Timor-Leste, Malaysia dan Algeria.
ICTB 2026 sendiri menjadi penyelenggaraan kelima setelah sebelumnya digelar pada tahun 2013, 2015, 2018 dan 2023.
Sejak pertama kali dilaksanakan, ICTB dikembangkan sebagai ruang pertukaran hasil penelitian sekaligus membangun jejaring kerja sama di bidang biologi tropika dan keanekaragaman hayati.
Pada penyelenggaraan tahun ini, ICTB menerima sebanyak 51 abstrak atau paper dari lima negara, yakni Indonesia, Filipina, Timor-Leste, Malaysia dan Algeria.
Dari jumlah tersebut, 43 abstrak dipresentasikan melalui sesi oral presentation, dengan 19 presentasi dilakukan secara daring dan 24 secara luring.
Sementara delapan abstrak lainnya dipresentasikan dalam kategori poster, terdiri dari satu presentasi daring dan tujuh presentasi luring.
Pembahasan dalam ICTB 2026 terbagi dalam empat subtema yang saling berkaitan, mulai dari pendidikan keanekaragaman hayati berbasis bentang alam, pengelolaan lahan suboptimal dan kawasan pascatambang, mata pencaharian berbasis alam, hingga bioteknologi untuk keanekaragaman hayati, lingkungan dan perubahan iklim.
Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Ir. Moch. Abduh yang hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menekankan pentingnya pendidikan dalam menjaga keanekaragaman hayati tropis.
Menurutnya, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan melalui teori di dalam kelas. Lingkungan sekitar perlu dimanfaatkan sebagai ruang belajar bagi generasi muda.
“Bentang alam kita harus menjadi ruang kelas, hutan kita menjadi laboratorium hidup, sungai menjadi sarana belajar, dan masyarakat menjadi sumber pengetahuan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut juga diluncurkan PROTIBAGURU atau Program Praktik Baik Guru Berkelanjutan. Program ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas pendidik dalam mengintegrasikan literasi lingkungan, STEM dan bioteknologi ke dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Dr. Edi Santosa mengatakan, ICTB 2026 diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan dan hasil penelitian, tetapi mampu mendorong penerapan ilmu pengetahuan menjadi kebijakan, teknologi tepat guna serta solusi bagi masyarakat.
“Tantangan yang dihadapi ekosistem tropika saat ini saling terkait dan semakin kompleks. Pendekatan solusinya pun harus terintegrasi—menghubungkan sains modern dengan kearifan lokal masyarakat adat,” katanya.
Ia juga mngatakan, ICTB 2026 turut dihadiri Deputy Director for Programme and Development SEAMEO Secretariat, Prof. Dr. Edi Santosa, Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan, Staf Ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Ekonomi dan Pembangunan Dr. Indra Maha serta Wali Kota Bogor Drs. Dedie Abdul Rachim.
Rangkaian kegiatan juga diisi keynote speech dari Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, pameran inovasi keanekaragaman hayati, serta kunjungan lapangan ke Kebun Raya Bogor dan laboratorium hidup Kampus SEAMEO BIOTROP.
“Melalui ICTB 2026, SEAMEO BIOTROP berharap terbangun jejaring kolaborasi yang lebih luas antara dunia sains, pendidikan, pemerintah, masyarakat dan sektor lainnya,” kata dia.
“Konferensi tersebut juga diharapkan menghasilkan pertukaran pengetahuan, rekomendasi kebijakan serta aksi nyata dalam mewujudkan kawasan tropis yang tangguh, lestari dan mampu bersaing di tingkat global,” pungkasnya. (3RY)











