Juruketik.com – Program Community Development dari Universitas Negeri Jakarta yang merupakan bagian dari Program Equity dengan dukungan pendanaan LPDP, berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi melalui Subdit PAUD PNF, menggelar kegiatan strategis guna memperkuat pembangunan generasi emas Indonesia.
Kegiatan ini mengusung tema ‘Membangun Anak Cerdas dan Hebat melalui Brain Dance-Cultural: Pelatihan Literasi Budaya dan Stimulasi Otak bagi Guru PAUD di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat’.
Kegiatan berlangsung pada 31 Maret 2026 di Hotel Dymens dan diikuti oleh 60 guru PAUD dari seluruh Kota Bukittinggi.
Tema yang diangkat menekankan pentingnya penggabungan antara pengembangan kecerdasan anak dengan penguatan identitas budaya melalui pendekatan inovatif brain dance-cultural.
Pendekatan tersebut menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan anak tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga melibatkan stimulasi melalui gerak tubuh, emosi, serta pengalaman budaya yang relevan dan bermakna.
Pelatihan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Elindra Yetti, yang juga menjadi narasumber utama. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa literasi budaya memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Masa kanak-kanak disebut sebagai periode emas (golden age), di mana anak sangat responsif terhadap nilai, norma, dan makna budaya yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya.
Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan Prof. Dr. Dadan Suryana dari Universitas Negeri Padang (UNP) serta Prof. Dr. Yufiarti, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta sebagai narasumber. Kehadiran para ahli tersebut memberikan perspektif yang lebih luas bagi peserta dalam mengembangkan pembelajaran yang mengintegrasikan perkembangan otak, kreativitas, dan nilai-nilai budaya.
Dalam praktiknya, pelatihan ini memberikan penguatan kepada para guru terkait pedagogi literasi budaya, yakni kemampuan mengintegrasikan nilai budaya ke dalam proses pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Hal ini dinilai penting karena masih banyak guru yang belum optimal dalam menerapkan pembelajaran berbasis budaya lokal.
Kegiatan ini juga mengangkat kearifan lokal Minangkabau sebagai sumber pembelajaran, khususnya filosofi ‘adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah’ yang mencerminkan keselarasan antara adat dan ajaran agama. Nilai tersebut diharapkan dapat ditanamkan sejak dini guna membentuk karakter anak yang berakhlak, bijaksana, dan memiliki etika sosial.
Melalui pendekatan brain dance-cultural yang berbasis prinsip neuroestetika, para guru diajak mempraktikkan gerakan yang terinspirasi dari tari tradisional Minangkabau. Aktivitas ini tidak hanya merangsang perkembangan otak anak, tetapi juga memperkuat keterkaitan antara gerak tubuh, emosi, dan budaya, sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan sekaligus bermakna.
Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi, terutama saat sesi praktik gerakan brain dance yang dapat diterapkan secara langsung di kelas PAUD. Kegiatan ini memberikan pengalaman nyata bagi guru dalam menciptakan metode pembelajaran inovatif yang mampu meningkatkan keterlibatan anak.
Melalui pelatihan ini, diharapkan guru PAUD di Kota Bukittinggi dapat berperan sebagai agen perubahan dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan anak, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.
Sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam mewujudkan pendidikan berkualitas yang berakar pada nilai-nilai budaya bangsa. Program ini sekaligus menegaskan bahwa pembentukan anak yang cerdas dan berkarakter tidak dapat dipisahkan dari penguatan identitas budaya sejak usia dini melalui sinergi antara pendidikan, budaya, dan inovasi. (*)












