Juruketik.com – Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, meninjau pelaksanaan Gebyar Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) di wilayah Kecamatan Bogor Selatan dan Bogor Tengah, Kamis (4/6/2026).
Program yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 ini diharapkan mampu menekan angka putus sekolah melalui pendidikan kesetaraan yang diselenggarakan PKBM.
Dalam kesempatan tersebut, Jenal menegaskan bahwa kegiatan HJB tidak hanya bersifat seremonial, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, salah satunya melalui upaya mengembalikan anak-anak putus sekolah ke jalur pendidikan.
Baca Juga: PKBM Bakti Nusa Kota Bogor Bangun Ruang Belajar Baru bagi Anak Putus Sekolah dan Disabilitas
“Ini sesuai dengan rapat HJB ke-544, bahwa harapan kami dan warga, event HJB tidak sekadar seremoni. Setelah diluncurkan di Bogor Timur, Gebyar PKBM kini hadir di Bogor Selatan dan Bogor Tengah,” kata Jenal Mutaqin.
“Awalnya target 544 anak warga Bogor Timur disalurkan ke PKBM, hingga hari ini sudah sekitar 300 anak yang terdata. Semoga segera mencapai target,” sambungnya.
Ia menjelaskan, masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan melalui PKBM dapat mendaftar langsung di kantor kecamatan. Program tersebut diberikan secara gratis hingga peserta memperoleh ijazah.
Baca Juga: Selaras Dengan Program Bogor Pintar, Dedie-Jenal Dukung PKBM di Kota Bogor
Menurutnya, langkah tersebut merupakan implementasi dari visi pembangunan Kota Bogor yang mengedepankan program Bogor Cerdas.
“Semua warga bisa mendaftar langsung di kantor kecamatan dan dipastikan gratis sampai mendapatkan ijazah. Ini merupakan implementasi visi Dedie-Jenal untuk mewujudkan Bogor Cerdas,” ucap dia.
Jenal menambahkan, keberhasilan program ini membutuhkan dukungan seluruh unsur kewilayahan, mulai dari RT, RW, hingga Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM).
Ia mendorong aparatur wilayah melakukan pendekatan langsung kepada warga yang masih belum melanjutkan pendidikan.
“Perlu pendekatan door to door. Di wilayah-wilayah seperti Mulyaharja harus dilakukan secara intensif. Keinginan anak untuk sekolah sebenarnya sudah ada, tinggal didorong oleh orang tua dan keluarga,” ujarnya didampingi Camat Bogor Tengah, Dheri Wiriadhirama.
Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Bogor juga menggandeng Universitas Indonesia untuk memperkuat legitimasi pendidikan kesetaraan. Jenal menegaskan bahwa lulusan PKBM memiliki kedudukan yang sama dengan lulusan sekolah formal.
“Legitimasi negara dan pemerintah terhadap PKBM sama sederajat dengan sekolah formal. Universitas Indonesia siap menerima lulusan PKBM dari Kota Bogor. Ini menjadi bukti bahwa alumni PKBM memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Bogor Selatan, H. Irwansyah, mengungkapkan bahwa terdapat 10 PKBM yang beroperasi di wilayah Bogor Selatan. Berdasarkan data kecamatan, jumlah warga yang putus sekolah mencapai 1.504 orang.
Pihaknya terus berkolaborasi dengan lurah, kader posyandu, hingga operator Japati untuk menjangkau warga yang belum menyelesaikan pendidikan.
“Warga yang mendaftar berasal dari berbagai jenjang, baik yang ingin melanjutkan dari SD ke SMP maupun dari SMP ke SMA. Program Paket A, B, dan C semuanya tersedia. Pendaftaran resmi dimulai Juli, tetapi saat ini kami sudah mulai menerima pendataan. Hingga hari ini sudah ada sekitar 200 pendaftar,” ujarnya.
Irwansyah menambahkan, wilayah Kelurahan Bojongkerta menjadi daerah dengan jumlah warga putus sekolah terbanyak. Namun demikian, keberadaan PKBM di wilayah tersebut dinilai mampu mengakomodasi kebutuhan pendidikan masyarakat.
“Kuota untuk 1.504 warga putus sekolah di Bogor Selatan dapat ditampung oleh PKBM yang ada. Pendaftaran akan terus dibuka hingga target terpenuhi. Gebyar PKBM ini sendiri berlangsung selama dua hari, yakni 3 hingga 4 Juni 2026,” pungkasnya. (3RY)





























