Juruketik.com – Konsep penataan kawasan Batutulis di Jalan Saleh Danasasmita, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, mengalami perubahan.
Kawasan yang sebelumnya disiapkan dengan konsep leuweung kini diarahkan menjadi taman dengan pemilihan vegetasi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.
Perubahan konsep tersebut dilakukan setelah Pemerintah Kota Bogor memberikan masukan terhadap rencana penataan yang sebelumnya digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat atau Pemprov Jabar.
Baca Juga: Tinjau Pembangunan Leuweung Batutulis Bogor, Dedie Rachim Kecewa: Ini Harusnya Hutan Kota
Salah satu pertimbangan utama adalah kondisi lahan Batutulis yang berada di area tebing dan dinilai membutuhkan penataan vegetasi yang tidak mengganggu stabilitas lereng.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor, Chusnul Rozaqi mengatakan, karakteristik tanah di kawasan tersebut membuat pemilihan vegetasi tidak bisa dilakukan sembarangan.
Menurutnya, kondisi tebing relatif labil dan di bagian bawah kawasan masih terdapat sumber mata air. Karena itu, jenis tanaman yang nantinya menghiasi kawasan harus dipilih dengan mempertimbangkan faktor keamanan lereng.
Baca Juga: Trase Baru Jalan Batutulis Bogor Segera Dibuka, Pemkot Siapkan Uji Coba Sebelum Digunakan
“Ini kan tanah tebingan, kondisi labil. Artinya, di bawah juga masih ada sumber mata air. Nah, kondisi ini yang harus kita pilih, tanaman apa yang tepat di lereng yang tidak mengganggu kestabilan lereng,” kata Chusnul.
Ia menjelaskan, tanaman berukuran besar dengan akar yang kuat dan tajuk lebat berpotensi memberikan beban tambahan terhadap kawasan. Terlebih, tanaman dengan karakter seperti itu juga memiliki risiko ketika diterpa angin.
“Mungkin kalau yang akar tunggang ke bawah tapi lebat seperti pohon penebes, dia juga kalau kena angin dan segala macam juga akan mengangkat,” ujarnya.
Atas pertimbangan tersebut, Pemkot Bogor lebih mengarahkan penghijauan menggunakan tanaman yang tidak tumbuh terlalu besar. Tanaman perdu dan jenis teh-tehan menjadi beberapa pilihan yang dinilai lebih sesuai untuk kondisi kawasan.
“Mungkin semacam perdu ataupun taman-taman teh-tehan yang tidak terlalu besar. Seperti itu yang kita pilih nanti,” jelasnya.
Penataan juga akan memperhatikan vegetasi yang saat ini sudah berada di sekitar jalur pedestrian. Salah satunya tanaman kalatea yang dinilai lebih ringan dan dapat digunakan untuk memperkaya tampilan kawasan tanpa memberikan beban besar terhadap lereng.
“Kalau tanaman yang di atas pejalan kaki ini kalatea. Ini kan tidak ada apa pun, dia kan cuma tanaman hias saja,” kata Chusnul.
Ia menambahkan, kawasan tersebut tetap akan dibuat hijau dan dipenuhi tanaman. Namun, penghijauan dilakukan dengan memperhatikan kemampuan lahan dalam menopang vegetasi.
“Kalau lahan ini kita ramaikan nanti pohonnya seperti itu. Tidak yang berat-berat untuk menambah beban dari tebingan tadi,” ungkapnya.
Selain penghijauan, jalur pedestrian yang berada di kawasan tersebut juga mulai dapat dimanfaatkan masyarakat. Chusnul mengatakan warga sudah diperbolehkan menggunakan jalur tersebut untuk berjalan kaki, meski pekerjaan penataan kawasan secara keseluruhan belum sepenuhnya selesai.
“Sudah, bisa dipakai jalan. Tapi karena semuanya belum selesai, mungkin masih menunggu dulu. Tapi tidak bisa pakai motor,” tegasnya.
Menurutnya, penggunaan jalur pedestrian oleh masyarakat saat ini juga sudah terlihat, terutama warga yang berjalan kaki melintasi kawasan tersebut.
Sementara itu, rencana penggunaan pohon trembesi dipastikan tidak menjadi pilihan untuk penghijauan di area lereng. Jenis pohon tersebut dinilai tidak sesuai dengan karakteristik kawasan yang membutuhkan vegetasi dengan beban dan pertumbuhan yang lebih terkendali.
“Tidak, trembesi tidak akan kuat nanti di sini,” ujarnya.
Chusnul menegaskan, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan jenis tanaman. Vegetasi yang dipilih harus mampu memperindah kawasan tanpa mengganggu struktur tebing atau meningkatkan risiko terjadinya longsor.
“Yang tadi, kita sifatnya tidak mengganggu struktur dari tebingan tadi. Tidak menjadikan tebingan tadi menjadi rawan untuk longsor,” jelasnya.
Untuk jumlah tanaman yang akan ditanam, Disperumkim belum menetapkan angka pasti. Jumlah tersebut nantinya disesuaikan dengan luas lahan, kondisi kawasan serta jenis tanaman yang dipilih.
“Belum tahu, nanti kita lihat. Kalau melihat sebelah sini banyak, bisa tanam tergantung pohonnya juga. Seperti itu, tidak bisa ditentukan begitu saja,” katanya.
Chusnul memperkirakan tanaman berukuran kecil seperti kalatea dapat ditanam dalam jumlah cukup banyak. Bahkan, pada area tertentu jumlahnya dapat mencapai ratusan tanaman.
“Luasan seperti ini tidak bisa. Di atas sedikit ini, seperti kalatea ini sudah bisa sampai 300-an tanaman yang ditanam,” tuturnya.
Ia memastikan konsep penghijauan kawasan tidak akan didominasi pohon-pohon hutan berukuran besar. Penataan lebih diarahkan pada tanaman perdu dan vegetasi yang sesuai dengan karakteristik lahan.
“Tidak. Cuma semacam, ya, ini saja. Tanaman perdu. Yang penting ramai, tapi tidak mengganggu kondisi stabilitas lereng tadi. Tapi akan tetap ada pohonnya,” pungkasnya. (3RY)











