Juruketik.com – Pemerintah Kota atau Pemkot Bogor mengusulkan dua pembangunan di titik perlintasan sebidang kepada pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) Kementerian Perhubungan.
Usulan ini disebut sebagai bagian dari komitmen meningkatkan keselamatan dan kenyamanan para penumpang kereta rel listrik (KRL) dan juga pengguna jalan.
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan kedua usulan itu yaitu pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) di perlintasan KRL MA Salmun Kecamatan Bogor Tengah, serta lintas bawah (underpass) di perlintasan sebidang Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal.
Baca Juga: Bogor-Bandung Lewat Jalur Selatan? Dedie Rachim Ungkap Rencana Besar Perkeretaapian
Untuk perlintasan MA Salmun, sangat dekat jaraknya dengan stasiun Kota Bogor yang merupakan stasiun terpadat yang mengakomodir ratusan ribu penumpang KRL setiap harinya.
“Kemarin saat silaturahmi dengan DJKA, sudah saya sampaikan bagaimana kondisi dua perlintasan, bahkan sebelum kejadian kecelakaan KRL dan Agro di Bekasi Timur. Traffic lalu lintas di dua titik itu juga, lumayan padat,” kata Dedie Rachim.
“Maka, dua itu yang diusulkan untuk pembangunan sebelum ditutup total sesuai arahan Presiden Prabowo untuk membenahi perlintasan sebidang di seluruh wilayah,” sambungnya.
Baca Juga: Perlintasan Kereta di Bogor Masih Banyak yang Berbahaya, Dishub Ajukan Perbaikan 9 Titik
Dedie Rachim menuturkan, kedua perlintasan sebidang itu sudah memenuhi persyaratan untuk dibangun. Pertama yang MA Salmun, tiap hari dilalui oleh KRL dengan durasi 4 menit sekali dan lalu lalang warga yang beraktivitas di pasar juga padat.
Kedua perlintasan Kebopedes, menurut Dedie, traffic lalu lintas di sana sangat padat terutama di jam berangkat dan pulang sekolah atau kerja.
Khusus untuk perlintasan Kebopedes, Dedie mengatakan, Pemkot Bogor sudah membuat detail engineering design (DED)-nya yang memuat aspek perencanaan teknis hingga kisaran biaya, sehingga diharapkan usulan ini bisa disetujui dan segera direalisasikan pembangunannya.
Berdasarkan penghitungan sementara mengacu DED, pembangunan underpass Kebon pedes membutuhkan anggaran sekitar Rp100 miliar.
“Anggaran itu untuk konstruksi dan juga pembebasan beberapa bidang lahan. Jika mengacu pada DED yang sudah ada itu lebih rendah ketimbang dibangun fly over,” ucap Dedie.
Perlintasan Kebopedes, menurut Dedie, menghubungkan Jalan Provinsi dari Jalan Pemuda ke Jalan baru Sholeh Iskandar.
Dedie mengaku pembangunan underpass Kebopedes sudah lama direncanakan karena selain padat traffic lalu lintas kendaraan dan KRL nya, di perlintasan yang dijaga dan dibantu oleh relawan gatur itu juga sering terjadi kecelakaan.
“Jadi demi menjaga keselamatan dan perjalanan baik kendaraan yang melintas atau KRL Jakarta Bogor yang berdurasi 4 menit sekali itu sudah seharusnya perlintasan Kebopedes itu dibangun underpass,” tandas Dedie Rachim. (sep)







