Juruketik.com – Kasus penyiraman air keras pada aktivis KontraS, Andrie Yunus, beberapa waktu lalu, memasuki babak baru.
Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI Letjen Yudi Abrimantyo menyatakan mundur dari jabatannya pada Rabu (25/3/2026), sebagai bentuk pertanggungjawaban atas keterlibatan empat oknum BAIS dalam kasus tersebut.
Keputusan Letjen Yudi untuk menyerahkan jabatannya meski belum ada putusan hukum yang inkracht atas kasus yang melibatkan anak buahnya, menuai apresiasi dari berbagai pihak.
Salah satunya dari penulis buku ‘Operasi Seroja: Di Timor-Timur Dahulu Kami Berjuang Untuk Negara’, Bobby Revolta.
Buku tersebut menceritakan tentang pengalaman prajurit TNI dalam operasi militer di Timor-Timur pada 1975, sebagai upaya integrasi Timor Portugis ke NKRI
Bobby menilai, langkah Letjen Yudi mundur dari jabatannya adalah bentuk tanggung jawab moral sekaligus sikap ksatria yang mencerminkan budaya luhur TNI.
Tindakan tersebut menunjukkan bagaimana TNI konsisten menjaga marwah Sapta Marga.
“Dalam tradisi TNI, pimpinan adalah puncak dari tanggung jawab atas anak buahnya. Apa yang dilakukan Letjen Yudi adalah refleksi nyata dari nilai itu,” ujar Bobby dalam keterangan resminya, Kamis (26/3/2026).
Ia menambahkan, keputusan mundur dari jabatan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan moral yang patut dihargai.
Menurutnya, TNI telah memberi teladan bahwa jabatan adalah amanah, bukan sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara.
“Ini menunjukkan TNI sebagai institusi yang bisa menjadi benchmark sekaligus pelopor. Jabatan tidak perlu digenggam erat kecuali ada kepentingan pribadi. Letjen Yudi telah membuktikan bahwa amanah lebih penting daripada sekadar posisi,” jelasnya.
Lebih jauh Bobby menilai, langkah ini seharusnya menjadi inspirasi bagi institusi lain di Indonesia.
Ia menekankan, keberanian untuk mundur ketika anak buah melakukan pelanggaran adalah bentuk integritas yang jarang ditunjukkan.
“Seharusnya tindakan ini menjadi contoh bagi institusi lain. Jika ada pelanggaran, pimpinan berani mengambil tanggung jawab, bahkan dengan mundur dari jabatan. Itu adalah sikap ksatria yang dapat menumbuhkan kepercayaan publik,” tutur Bobby.
Keputusan Letjen Yudi juga dianggap sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya tanggung jawab di kalangan pejabat publik.
Bobby mengingatkan bahwa jabatan hanyalah sarana untuk mengabdi, bukan tujuan akhir.
“Kalau semua institusi menempatkan jabatan sebagai amanah, bukan sebagai hak, maka kita akan punya birokrasi yang lebih sehat dan berintegritas,” pungkasnya. (*)











