Juruketik.com – Suasana hangat bercampur haru memenuhi Gedung Agribusiness and Technology Park IPB University, Minggu (7/12). Sejak pagi, aroma bumbu khas Minang menyeruak dari beberapa tungku.

Sekitar 150 relawan dari berbagai wilayah Jabodetabek berkumpul untuk satu tujuan, memasak 1 ton rendang bagi korban bencana alam di Sumatera.
Kegiatan bertajuk ‘Marandang Basamo di Rantau’ ini digagas oleh para perantau asal Sumatera bersama dosen dan alumni Minang di IPB University. Hadir pula aktris Dewi Sandra, yang ikut turun langsung mengaduk rendang dan menyemangati para relawan.
Dewi terlihat membaur dengan para peserta, mengenakan celemek sederhana sambil sesekali menyapa tim masak. Senyum dan antusiasnya membuat relawan semakin bersemangat, bahkan beberapa ibu-ibu yang bertugas mengaduk wajan besar tampak terharu.
“Indonesia Insya Allah banyak orang peduli dan sayang. Kita mungkin tidak bisa datang langsung ke lokasi bencana, tapi aksi seperti ini membuktikan kita tetap bisa berbuat,” ujar Dewi Sandra, yang disambut tepuk tangan para relawan.
Inisiatif ini bermula dari unggahan seorang teman yang rutin menyalurkan bantuan ke daerah terdampak bencana. Unggahan tersebut kemudian di-repost oleh salah satu inisiator, Rina Matoati, dosen Departemen Manajemen IPB University.
“Dari situ saya mengajak, bisa nggak kita apple to apple? Teman saya yang influencer juga punya semangat yang sama. Lalu muncul ide: kenapa kita yang di rantau tidak membuat rendang saja?” kata Rina.
Rina bersama rekannya sesama dosen, Eka Dasar Raffiana, menghubungi Paragon. Gayung bersambut, pihak Paragon langsung setuju mensponsori penuh kegiatan. Bersama influencer Ghea yang memiliki 40 ribu pengikut, mereka menggerakkan jaringan donatur. Hanya dalam tiga hari, seluruh persiapan selesai.
Totalnya terkumpul 1 ton daging sapi, hasil donasi Paragon sebagai sponsor utama dan hampir 300 donatur dari berbagai daerah.
Kegiatan memasak dilakukan oleh relawan yang sebelumnya diseleksi karena membutuhkan keterampilan khusus. Proses pemvakuman dilakukan oleh MT Farm binaan Fakultas Teknologi Pertanian IPB yang memastikan rendang aman, higienis, dan bisa bertahan hingga dua tahun.
“Kami ingin makanan yang benar-benar siap konsumsi, steril, dan tahan lama. Di lokasi bencana banyak makanan matang yang basi sebelum tiba. Sementara bahan mentah sulit dimasak karena panci hanyut, air bersih tidak ada, bahkan mereka terpaksa memakai air banjir,” kata Rina.
Rendang yang dimasak secara massal ini akan menghasilkan sekitar 5.000 pack, masing-masing berisi 5–6 potong daging untuk satu keluarga. Paket bantuan juga akan dilengkapi nasi instan.
Relawan yang datang berasal dari berbagai latar, bukan hanya mahasiswa IPB. Ada mahasiswa UIN, relawan independen, komunitas perantau dari Minang hingga Kalimantan, serta masyarakat umum. Banyak yang ingin ikut memasak, hingga panitia perlu melakukan seleksi.
“Ini murni digerakkan oleh empati. Kami orang Minang memfasilitasi lewat himpunan alumni dan mahasiswa Minang, tapi yang datang bukan hanya orang Minang. Ada dari mana saja, dan semua ingin membantu,” ujar Eka.
Sepanjang hari, para relawan bekerja dalam dua shift. Aroma rendang memenuhi ruangan, sesekali diselingi tawa dan teriakan penyemangat. Kehadiran Dewi Sandra menambah energi positif, ia tak hanya hadir, tetapi ikut mengaduk rendang, hingga memberi motivasi.
“Melihat teman-teman relawan bekerja dari pagi, saya ikut terharu. Ini bukti bahwa kebaikan bisa menyatukan siapa pun,” kata Dewi.
Rendang siap saji ini akan dikirim melalui jaringan relawan Paragon ke tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dengan pengiriman dilakukan bertahap mulai Selasa hingga Kamis pekan ini.
“Insya Allah bantuan ini dapat memenuhi kebutuhan protein para penyintas. Tujuan kami sederhana: memastikan mereka tetap kuat menghadapi masa pemulihan,” ujar Rina.
Di tengah wajan-wajan besar yang mengepul, suara pengaduk rendang bersahutan. Kalimat yang paling sering terdengar dari para relawan sore itu adalah satu: Untuk saudara-saudara kita di Sumatera. (Adm)















