Juruketik.com – Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 resmi mulai dibangun pada Kamis (17/9/2026).
Fasilitas ini disiapkan untuk mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari menjadi energi listrik bagi wilayah Bogor.
Pembangunan PSEL Bogor Raya 1 sendiri menjadi langkah baru Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor dalam menangani persoalan sampah regional yang prosesnya telah berlangsung sejak 2020.
Menurut Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, realisasi pembangunan PSEL tidak terlepas dari koordinasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat serta penyesuaian regulasi yang menjadi dasar pelaksanaannya.
“Ini proses yang cukup panjang ya, saya pertama kali dengan Pak Bupati bertemu dengan Menteri LH di bulan Mei 2020. Hari ini tanggal 17 September 2026, akhirnya kita bisa mewujudkan mulainya pelaksanaan pembangunan PSEL Bogor Raya 1,” ujar Dedie Rachim.
Dedie mengatakan, fasilitas PSEL Bogor Raya 1 nantinya memiliki kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah perhari.
Dari kapasitas tersebut, sebanyak 1.000 ton sampah per hari dialokasikan untuk Kabupaten Bogor, sedangkan Kota Bogor mendapat kapasitas pengolahan sekitar 500 ton perhari.
Ia juga mengatakan, fasilitas ini juga tidak hanya menyasar sampah yang dihasilkan setiap hari. Sekitar 10 persen dari kapasitas atau 150 ton perhari disiapkan untuk mengolah timbunan sampah lama melalui proses mining.
Selain itu, pemerintah menyiapkan teknologi pyrolysis plant yang diproyeksikan mampu menangani sekitar 1.000 ton sampah deposit.
Dedie berharap kombinasi sejumlah metode pengolahan tersebut dapat membantu mengurai persoalan sampah yang selama ini menjadi kondisi darurat di wilayah Bogor.
”kapasitas PSEL Bogor Raya 1 dinilai belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan Kota Bogor. Pasalnya, timbulan sampah di Kota Bogor sendiri disebut hampir mencapai 1.000 ton per hari,” terangnya.
Karena itu, Pemkot Bogor tengah menyiapkan pembangunan fasilitas lanjutan, yakni Bogor Raya 2 di kawasan Kayu Manis. Fasilitas tersebut direncanakan memiliki kapasitas pengolahan yang setara dan ditargetkan memasuki tahap groundbreaking pada November 2026.
Di sisi pembangunan, proses proyek utama saat ini memasuki tahapan lelang dengan investor terpilih. Pemerintah Kota Bogor juga menyiapkan berbagai infrastruktur penunjang agar kawasan PSEL dapat beroperasi.
”Ya jadi, salah satunya pembangunan akses jalan sepanjang sekitar 1,7 kilometer yang meliputi pekerjaan pematangan dan pemadatan lahan hingga pembangunan jembatan,” ucapnya.
Fasilitas PSEL Bogor Raya 1 sendiri akan dibangun di area sekitar enam hektare. Kawasan tersebut juga akan dilengkapi fasilitas pengolahan Fly Ash Bottom Ash (FABA).
Residu hasil pembakaran nantinya tidak seluruhnya menjadi limbah. Material tersebut direncanakan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pengurugan maupun diolah menjadi berbagai produk konstruksi, seperti paving block, batako dan box culvert.
Sementara itu, energi listrik yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah telah memiliki calon pembeli. Dedie menyebut PLN telah berkomitmen menjadi off-taker listrik yang dihasilkan PSEL berdasarkan nota kesepahaman yang telah ditandatangani.
“Jadi listrik yang dihasilkan per hari itu namanya 24 MW peak. Nanti semuanya masuk ke dalam instalasinya PLN. PLN kan sudah campur nanti dari PLTU, didistribusikan lagi ke masyarakat, jadi intinya ada off-taker-nya,” jelasnya.
Meski teknologi pengolahan sampah akan semakin dikembangkan, Dedie menegaskan bahwa penanganan sampah tetap harus dimulai dari tingkat masyarakat.
”Pemilahan sampah dari sumber dinilai penting agar material yang masih memiliki nilai ekonomi, terutama jenis plastik tertentu, tidak langsung masuk ke proses pembakaran, ” katanya.
Dengan pemilahan sejak dari hulu, sampah yang dapat didaur ulang tetap bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi, sementara sampah yang tidak dapat digunakan kembali dapat diarahkan ke fasilitas pengolahan.
”Kami berharap kombinasi pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, daur ulang, serta pengolahan menjadi energi dapat menjadi bagian dari solusi persoalan sampah di wilayah Bogor,” pungkasnya. (3RY)












