Juruketik.com – Koalisi Mahasiswa Peduli IPB menuntut Rektor IPB University untuk segera menindak dengan tegas dan menyelesaikan dugaan kasus kekerasan seksual yang menjerat mahasiswa.
Ketua Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus Bebas Pelecehan, Maulana Bawazier menilai, dugaan pelecehan yang tersebar di media sosial dengan bentuk percakapan di grup chat WhatsApp itu terjadi secara sistematis.
“Bukti-bukti yang telah viral di media X IPBfess (@ipb_menfess) menunjukkan adanya laporan berdasarkan chat pribadi serta grup chat mahasiswa TMB-59 yang secara sistematis melakukan pelecehan seksual, objektifikasi, dan seksualitas terhadap sesama mahasiswa serta perpeloncoan kepada mahasiswa junior yang mengarah kepada kekerasan seksual,” tegasnya, Jumat 17 April 2026.
Dari keterangan yang diberikan Koalisi Mahasiswa Peduli IPB, disebutkan bahwa kasus pelecehan seksual di IPB bukanlah hal baru. IPB pada tahun ini, telah mengalami 2 kasus besar pelecehan seksual yang menjerat mahasiswanya.
Untuk yang saat ini terjadi, Maulana menyebut, bahwa polanya persis dengan kasus grup chat viral di Universitas Indonesia (UI) yang telah berlangsung sejak lama.
“Namun, di IPB, Satgas yang kerap diagung-agungkan Rektor ternyata gagal menindak secara tegas. Beberapa kasus hanya berakhir dengan sanksi ringan semacam “membersihkan musola”, tanpa memberikan efek jera maupun perlindungan yang memadai bagi korban,” cetusnya.
Maulana pun membandingkannya dengan respons cepat dan tanggap yang ditunjukkan Rektor serta pimpinan akademik Universitas Indonesia (UI).
Di UI, kata dia, kasus serupa langsung ditangani dengan serius, korban dilindungi, pelaku diproses secara transparan, dan aksi konkret dilakukan untuk mencegah terulangnya kekerasan serta pelecehan seksual di lingkungan kampus.
“Hal ini menjadi teladan yang kini justru kontras dengan sikap lambat dan defensif pimpinan IPB. Hingga saat ini baik pimpinan fakultas, dan rektorat masih bisu seribu bahasa tentang kasus KS (kekerasan seksual) yang terulang kembali di IPB,” tegasnya.
Koalisi Mahasiswa Peduli IPB menyesalkan keras bahwa rektor dan pimpinan akademik baru bereaksi ketika nama baik pimpinan, organisasi, atau fakultas terancam.
“Selama ini Satgas hanya menjadi alat pencitraan. Ide usang yang hanya di-branding ulang tanpa substansi. Mahasiswa melihat Satgas tidak cekatan, tidak transparan, dan cenderung melindungi pelaku demi menjaga ‘nama baik’ departemen,” tuturnya.
Apalagi, kata dia, kasus ini tidak hanya menimpa satu korban, melainkan puluhan mahasiswa perempuan yang merasa kebebasan dan harga dirinya terancam akibat perilaku tersebut.
“Kami tidak akan diam. Mahasiswa IPB akan terus menuntut keadilan, bukan sekadar damai semu yang hanya menguntungkan pelaku dan melindungi nama baik institusi,” pungkas Maulana. (*)
Berikut tuntutan Koalisi Mahasiswa Peduli IPB :
1. Rektor IPB Alim Setiawan segera mengambil sikap tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu terhadap seluruh pelaku pelecehan seksual dan kekerasan, termasuk yang diduga melibatkan anak pimpinan atau guru besar.
2. Reformasi total Satgas agar menjadi lembaga yang independen, akuntabel, dan pro-korban, bukan sekadar alat pencitraan kampus.
3. Penanganan kasus secara cepat, adil, dan terbuka sebagaimana yang telah dilakukan pimpinan UI.
4. Jaminan perlindungan dan pemulihan bagi seluruh korban tanpa tekanan untuk “damai” atau ancaman akademik.
5. Audit menyeluruh terhadap seluruh grup chat dan organisasi kemahasiswaan yang berpotensi menjadi sarang pelecehan.









