Juruketik.com – Satrio Wiratama atau Baby Rio menjadi sorotan dunia konservasi setelah tercatat sebagai panda raksasa pertama yang lahir di Indonesia, sekaligus satu-satunya kelahiran panda di luar China sepanjang tahun 2025.

Bayi panda bernama Satrio Wiratama itu lahir di Istana Panda Indonesia, Taman Safari Indonesia, Cisarua, Kabupaten Bogor, pada 27 November 2025 dan mencetak sejarah baru bagi konservasi satwa liar di Tanah Air.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto menyampaikan rasa bangga dan prestasi atas keberhasilan Taman Safari Indonesia dalam mengembangbiakkan panda raksasa melalui kerjasama konservasi dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Baca Juga: 7 Alasan Kenapa Kamu Wajib Liburan di Bogor! Nomor 4 Paling Diminati
Hal tersebut disampaikan Rudy Susmanto saat mengunjungi Istana Panda Raksasa, Taman Safari Indonesia, Selasa (9/6).
“Taman Safari Indonesia merupakan kebanggaan bagi Kabupaten Bogor. Kami merasa terhormat karena Taman Safari Indonesia di Kabupaten Bogor dapat bekerja sama dengan Republik Rakyat Tiongkok dalam program konservasi panda raksasa,” ujar Rudy Susmanto.
Menurutnya, kelahiran Baby Rio menjadi momen bersejarah karena merupakan panda pertama yang lahir di Indonesia sekaligus satu-satunya panda yang lahir di luar RRT pada tahun 2025.
Baca Juga: 4 Tempat Liburan Murah di Kota Bogor, Cocok Buat ajak Main Anak
“Ini menjadi sebuah kebanggaan dan kehormatan bagi kami. Panda tersebut merupakan panda pertama yang lahir di Indonesia, sekaligus satu-satunya panda yang lahir di luar RRT pada tahun 2025. Ini menjadi catatan sejarah baru dan mudah-mudahan dapat menjadi jembatan penghubung yang semakin mempererat komunikasi serta hubungan antarnegara, antara Indonesia dan RRT,” katanya.
Rudy juga mengungkapkan bahwa kerja sama antara Taman Safari Indonesia dan Tiongkok tidak hanya terbatas pada konservasi panda, tetapi juga berkembang ke berbagai bidang lain, termasuk kesehatan hewan.
Bahkan dalam proses kelahiran Baby Rio, Taman Safari Indonesia mendatangkan tenaga ahli dan perawat satwa liar dari Tiongkok untuk memastikan kondisi induk dan anak panda tetap sehat serta mendapatkan penanganan terbaik.
“Karena panda ini bukan sekedar konservasi satwa, melainkan juga simbol hubungan persahabatan dan diplomasi yang baik antara Indonesia dan RRT,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Operasional Taman Safari Indonesia, Ester, mengatakan bahwa kelahiran Baby Rio bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan awal dari kerja sama konservasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Bagi kami, kelahiran Baby Rio bukanlah akhir dari sebuah kisah sukses, melainkan awal dari kerja sama yang lebih luas dan bermakna. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat terus mempromosikan konservasi satwa liar, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian alam, serta memperkuat kerjasama konservasi internasional yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ester menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Tiongkok, khususnya China Wildlife Conservation Association (CWCA) dan China Conservation and Research Center for the Giant Panda (CCRCGP), yang telah memberikan pendampingan, penelitian, serta bantuan teknis hingga berhasil melahirkan Baby Rio di Indonesia.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Kehutanan, atas dukungan dan komitmennya dalam mendukung konservasi satwa liar dan kerja sama internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Ester mengungkapkan rasa bangganya karena Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, berkenan memberikan nama Satrio Wiratama kepada bayi panda tersebut.
Menurutnya, nama Satrio Wiratama mencerminkan semangat perjuangan, keberanian, kemuliaan, dan budi luhur, sekaligus menjadi simbol persahabatan yang erat dan harmonis antara Indonesia dan Tiongkok.
Ester juga memberikan penghormatan kepada para pendiri Taman Safari Indonesia yang telah mewujudkan mimpi besar konservasi satwa liar hingga lahirnya Istana Panda Indonesia sebagai fasilitas konservasi berstandar internasional.
“Yang kita saksikan hari ini merupakan buah dari sebuah mimpi besar yang diperjuangkan selama bertahun-tahun, melewati berbagai tantangan dan perjalanan panjang hingga akhirnya dapat terwujud,” katanya.
Kelahiran Baby Rio tidak hanya menjadi tonggak sejarah bagi dunia konservasi Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi Kabupaten Bogor sebagai pusat konservasi satwa internasional sekaligus simbol eratnya hubungan persahabatan antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok. (*)




























