Juruketik.com – Kekeringan meluas di Kabupaten Bogor, 28 kecamatan kini mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat, kondisi tersebut telah berdampak pada ratusan kepala keluarga di berbagai wilayah, sementara debit sejumlah sungai mulai menyusut.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bogor, Ade Hasrat mengatakan, kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir menjadi penyebab utama meluasnya kekeringan.
Penurunan debit air juga mulai terjadi di sejumlah sungai, termasuk Sungai Ciliwung yang selama ini menjadi salah satu sumber pengairan lahan pertanian, terutama di wilayah selatan Kabupaten Bogor.
“Kami terus berupaya melakukan antisipasi, meminimalisir dampak kekeringan dengan mendistribusikan air bersih kepada masyarakat,” kata Ade kepada wartawan, Selasa 4 Agustus 2026.
Ia menyebut, wilayah kekeringan di Kabupaten Bogor tersebar dari Barat hingga Timur Bumi Tegar Beriman.
Sehingga, pasokan air bersih yang didistribusikan pun terus bertambah hingga kini mencapai 1,2 juta liter untuk masyarakat.
“Hingga saat ini, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai lebih dari 1,2 juta liter. Bantuan tersebut telah menjangkau sekitar 375 kepala keluarga yang tersebar di 113 desa pada 28 kecamatan di Kabupaten Bogor,” beber Ade.
Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan dampak fenomena El Nino masih berpotensi berlangsung hingga awal kuartal pertama 2027.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Citeko, Cisarua, M. Fathuri mengatakan, kondisi iklim saat ini perlu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor, terutama ketersediaan air dan pertanian.
“BMKG terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat upaya mitigasi dan antisipasi terhadap risiko kekeringan maupun bencana hidrometeorologi,” tuturnya.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui penyemaian awan untuk mengoptimalkan potensi hujan alami di wilayah yang memiliki kondisi atmosfer mendukung, sebelum dampak kekeringan semakin meluas. (Kha)












