Juruketik.com – Kabar mengenai keberadaan Bayu Zulkarnaen, aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang dilaporkan hilang di kawasan Jembatan Cipaku sejak 13 Agustus 2026, kembali mencuat setelah video di TikTok menyebut dirinya berada di Sukabumi.
Dalam siaran langsung yang beredar dan ramai diperbincangkan, Bayu disebut berada di sebuah rumah di Sukabumi dan telah dibawa oleh aparat Polresta Bogor Kota. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi dari kepolisian yang membenarkan kabar tersebut.
Menanggapi itu, Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim meminta masyarakat tidak terburu-buru mempercayai informasi yang beredar dan menunggu keterangan resmi dari Polresta Bogor Kota.
Baca Juga: Hari Terakhir Pencarian ASN Pemkot Bogor yang Hilang di Jembatan Cipaku, Korban Belum Ditemukan
“Saya belum menerima laporan resminya, tetapi ada komunikasi bahwa sedang dilakukan langkah penyelidikan oleh Polresta Bogor,” kata Dedie Rachim, Kamis (17/9/2026).
Dedie mengaku belum memperoleh laporan resmi dari kepolisian mengenai hasil pencarian tersebut. Karena itu, ia meminta semua pihak menunggu informasi yang disampaikan langsung oleh aparat penegak hukum.
Menurut Dedie, apabila Bayu memang telah ditemukan, langkah selanjutnya harus diserahkan kepada pihak kepolisian untuk diproses berdasarkan fakta dan bukti yang diperoleh dalam penyelidikan.
Baca Juga: Misteri ASN Bogor Hilang di Jembatan Cipaku-Pamoyanan, Motor dan Barang Miliknya Ditemukan
“Saya cuma berpesan, kebetulan waktu itu dialog dengan Pak Wakapolres, agar kalau memang yang bersangkutan bisa ditemukan, berarti kan ini harus diproses,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihak kepolisian nantinya yang berwenang menjelaskan secara resmi mengenai keberadaan Bayu, termasuk alasan yang melatarbelakangi proses pencarian terhadap ASN tersebut.
“Di mana keberadaannya, kemudian kenapa harus dicari, kenapa yang bersangkutan itu kemudian membuat alibi seolah-olah menghilang dan lain sebagainya, kita tunggu aja keterangan resmi dari Polresta Bogor,” katanya.
Sebelumnya, kabar mengenai Bayu juga sempat memicu kegaduhan setelah beredar video yang diduga berasal dari anggota BPBD. Dalam video tersebut terdapat klaim bahwa Bayu berada di Sukabumi dan disebut telah menikah lagi.
Dedie mengingatkan agar informasi tersebut tidak langsung disampaikan sebagai sebuah fakta sebelum mendapatkan kepastian dari aparat penegak hukum.
Imbauan itu juga ditujukan kepada jajaran pemerintah daerah, termasuk BPBD Kota Bogor, agar tidak mengeluarkan pernyataan yang belum terverifikasi.
“Kita menahan diri. Jadi intinya kan kita serahkan semua kepada aparat yang berwajib. Semua ini kan masih dalam konteks penyelidikan tadi,” ucapnya.
Dedie menegaskan, setiap informasi mengenai keberadaan Bayu harus terlebih dahulu dibuktikan dengan fakta dan bukti. Ia pun memilih untuk tidak memberikan banyak komentar sebelum mendapatkan kepastian resmi.
“Betul atau tidaknya kan perlu fakta, perlu bukti. Jadi sabar lah, saya aja yang dapat informasi saya cicing-cicing wae (diam-diam saja) kan, nunggu aja dulu gimana, bener enggak,” tuturnya.
Menurutnya, persoalan tersebut memiliki sensitivitas tersendiri sehingga penyampaian informasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara hati-hati.
“Jadi jangan gegabah lah. Begini-begini kan sensitif, masyarakat juga butuh kepastian,” katanya.
Selain menjaga akurasi informasi, Dedie juga meminta agar proses penyelidikan tidak terganggu akibat beredarnya informasi yang belum terkonfirmasi. Ia khawatir informasi mengenai langkah aparat yang disampaikan terlalu dini justru dapat menghambat proses pencarian.
“Kemudian juga aparat penegak hukum juga kalau kemudian dibocorkan, bisa jadi kabur kan. Jadi tolong lah ya, semuanya menahan diri untuk tidak memberikan statement apa pun. Ya kita tunggu,” pungkasnya. (3RY)












