Juruketik.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengungkap fakta di balik meningkatnya temuan kasus sejumlah penyakit tidak menular dan penyakit menular di wilayah Kota Hujan.
Mulai dari hipertensi, diabetes, kanker, stroke, gagal ginjal, HIV, stunting hingga tuberkulosis (TBC).
Kepala Dinkes Kota Bogor, dr. Erna Nuerana mengatakan, penyakit tidak menular terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Baca Juga: Dinkes Kota Bogor Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk Wartawan
”Kalau penyakit yang tinggi saat ini, peningkatan yang signifikan adalah hipertensi, diabetes, kanker, stroke, dan gagal ginjal. Kalau kita lihat trennya dari tahun ke tahun memang meningkat,” ujarnya kepada wartawan, Jumat 10 Juli 2026.
Menurut Erna, meningkatnya jumlah kasus yang tercatat juga dipengaruhi oleh pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang kini menjangkau lebih banyak masyarakat.
”Apalagi sekarang dengan adanya Cek Kesehatan Gratis, kita melakukan pemeriksaan tekanan darah kepada masyarakat. Otomatis jumlah kasus akan meningkat. Tetapi kenaikan kasus itu kami nilai positif karena penyakit dapat diketahui lebih dini sehingga penanganannya bisa dilakukan lebih cepat,” jelasnya.
Baca Juga: Waspada! Kurang dari Dua Bulan, 1.300 Kasus Campak Ditemukan di Kota Bogor
Selain penyakit tidak menular, TBC paru masih menjadi perhatian utama Dinkes Kota Bogor. Erna menyebut Indonesia menempati peringkat kedua dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC, sementara Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus tertinggi di Indonesia.
”Kota Bogor juga tinggi, tetapi itu karena deteksi kita tinggi. Kalau kita diam saja, kasusnya tidak akan ditemukan,” katanya.
Hal serupa juga terjadi pada kasus HIV. Menurut Erna, tingginya angka kasus di Kota Bogor merupakan hasil dari upaya aktif pemerintah dalam melakukan penelusuran dan pemeriksaan kepada masyarakat.
”HIV di Kota Bogor juga tinggi karena kita mencarinya. Pada fase tertentu, kondisi ini justru menjadi sesuatu yang baik karena kasus bisa ditemukan lebih awal dan segera ditangani,” ungkapnya.
Untuk memperkuat upaya pengendalian TBC, Dinkes Kota Bogor dalam waktu dekat akan menggelar program Cek Kesehatan Gratis khusus TBC secara masif di seluruh wilayah.
Pemeriksaan akan diprioritaskan kepada masyarakat yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC.
”Kalau dalam satu keluarga ada satu orang yang terkena TBC, maka seluruh anggota keluarganya harus diperiksa,” tegas Erna.
Di bidang gizi, Dinkes juga masih menghadapi tantangan dalam penanganan stunting. Meskipun pada tahun lalu hampir 500 anak berhasil keluar dari kondisi stunting, masih ditemukan kasus-kasus baru.
Hasil evaluasi menunjukkan, salah satu penyebab munculnya stunting baru adalah pola asuh yang belum optimal, khususnya saat anak memasuki masa peralihan dari ASI ke makanan pendamping.
”Kami mengidentifikasi masih belum baiknya pola asuh dari ibu kepada anak, terutama ketika berganti dari ASI ke makanan. Pada fase itu status gizi anak bisa menurun. Ini masih menjadi pekerjaan rumah kami,” ujarnya.
Selain itu, Dinkes Kota Bogor juga memberikan perhatian terhadap kesehatan mental anak. Isu perundungan atau bullying di lingkungan sekolah menjadi salah satu fokus yang saat ini sedang ditangani melalui kerja sama dengan RS Marzoeki Mahdi.
”Kesehatan jiwa menjadi perhatian kami, terutama pada anak-anak terkait kasus bullying. Kami sedang bekerja sama dengan RS Marzoeki Mahdi di beberapa sekolah untuk melihat kondisi kesehatan mental anak. Hasilnya nanti akan kami sampaikan jika sudah ada, tetapi ini menjadi atensi serius bagi kami,” pungkasnya. (3RY)











