Juruketik.com – Upaya mempercepat penanganan bencana di wilayah Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, diperkuat dengan dukungan peralatan baru.
Sebanyak 16 kelurahan kini dilengkapi mesin chainsaw atau mesin gergaji yang dapat digunakan untuk menangani kondisi darurat, seperti pohon tumbang yang menghambat akses warga.
“Bogor Selatan menjadi salah satu daerah dengan tingkat bencana cukup tinggi. Ini murni usulan pokir tahun 2025 yang terealisasi di tahun 2026,” kata Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin saat menghadiri penyerahan alat mesin chainsaw di Aula Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Kamis 13 Agustus 2026.
Baca Juga: Antisipasi El Nino, 16 Kelurahan di Bogor Selatan Serentak Bersihkan Kali Cegah DBD dan Banjir
Menurut Jenal, Bogor Selatan termasuk kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan melakukan mitigasi serta penanganan awal secara mandiri sebelum bantuan dari petugas tiba.
Dilanjutkan Jenal, pengadaan chainsaw tersebut merupakan hasil usulan pokir DPRD pada 2025 yang direalisasikan pada 2026.
Ia menyebut skema bantuan serupa dapat diterapkan di kecamatan lain apabila memiliki kebutuhan dan tingkat urgensi yang sama, dengan menyesuaikan kemampuan anggaran.
Baca Juga: Makin Mudah! Warga Bogor Selatan Bisa Lapor Bencana hingga Gangguan Keamanan Lewat Sahabat Bosel
Said Muhammad Mohan menuturkan, luas wilayah Bogor Selatan menjadi salah satu alasan pentingnya ketersediaan peralatan penanganan bencana di tingkat kelurahan. Jarak dan waktu tempuh menuju lokasi bencana dinilai dapat memengaruhi kecepatan penanganan.
“Ketika terjadi pohon tumbang atau kejadian lainnya, masyarakat melalui aparatur wilayah bisa melakukan langkah awal untuk evakuasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan chainsaw dapat dimanfaatkan ketika pohon tumbang menghalangi jalan atau akses warga. Petugas wilayah maupun kelompok tanggap bencana dapat segera melakukan pemotongan dan pembersihan sehingga akses bisa kembali digunakan.
Namun, dari 16 kelurahan yang mendapat dukungan peralatan, saat ini baru empat wilayah yang telah memiliki Kelompok Tanggap Bencana (Kaltana).
Mohan meminta kondisi tersebut segera ditindaklanjuti dengan pembentukan Kaltana di seluruh kelurahan. Menurutnya, peralatan tanpa sumber daya manusia yang terorganisasi tidak akan maksimal dalam mendukung penanganan bencana.
Ia berharap BPBD Kota Bogor terus mendorong pembentukan Kaltana sehingga seluruh kelurahan memiliki kelompok yang siap bergerak ketika terjadi bencana.
Dengan adanya Kaltana dan peralatan yang memadai, penanganan awal diharapkan dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus sepenuhnya menunggu kedatangan tim BPBD dari tingkat kota.
“Jadi, tidak harus menunggu tim BPBD datang. Di wilayah sudah ada kelompok Kaltana yang siap untuk mengatasi setiap ada bencana yang ada di wilayah masing-masing,” tandasnya. (3RY)











