Juruketik.com – Sebanyak 522 siswa dari sekitar 30 sekolah dasar (SD) se-Kota Bogor memeriahkan Invitasi Olahraga Tradisional (Ortrad) Tingkat SD Kota Bogor 2026 yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bogor di Lapangan Terbuka GOR Pajajaran, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya Dispora Kota Bogor untuk menghidupkan kembali olahraga dan permainan tradisional di kalangan anak-anak, sekaligus mengajak mereka mengurangi ketergantungan terhadap gadget.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bogor, Anas S Rasmana mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengajak anak-anak mengurangi ketergantungan terhadap gadget sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional.
Baca Juga: 912 Pelajar SD Meriahkan Invitasi Ortrad Kabupaten Bogor, Ada 5 Cabang yang Dipertandingkan
”Ini merupakan event tahun ini guna memindah anak-anak SD agar tidak terlalu bermain dengan gadget,” kata Anas.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi memberikan sejumlah tantangan bagi anak-anak, salah satunya kebiasaan terlalu mengandalkan informasi dari media sosial sehingga minat terhadap literasi dinilai perlu diperkuat.
”Saya melihat bahwa ada kelemahan dua hal di zaman teknologi IT ini. Yang pertama, pelajar terlalu mengandalkan info dari medsos. Jadi kurang literasi. Makanya saya nanti ada acara tentang literasi,” ucap dia.
Baca Juga: Kabupaten Bogor jadi Tuan Rumah Invitasi Ortrad Jabar 2026, 648 Atlet dari 27 Kabupaten/Kota Siap Bertanding
Anas menyebut, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengajak anak-anak kembali mengenal aktivitas yang bersentuhan dengan alam dan interaksi sosial secara langsung.
”Yang kedua, bermain. Mungkin tidak akan sama dengan waktu kita masa kecil. Sekaligus saya ingin melestarikan olahraga tradisional, seperti Galasin, Sumpit, Bakiak, Egrang,” jelasnya.
Ia menilai permainan tradisional tidak hanya memberikan ruang bagi anak-anak untuk bergerak dan berolahraga, tetapi juga membangun hubungan sosial antara anak dengan teman maupun orang tua.
”Dan kembali back to nature. Kembali kepada perilaku sosialis sebagai manusia-manusianya. Supaya tidak lepas,” katanya.
Anas berharap anak-anak tidak selalu terbiasa dengan sesuatu yang serba cepat dan canggih. Menurutnya, kehidupan juga perlu diimbangi dengan aktivitas sederhana yang dekat dengan alam dan hubungan antarmanusia.
”Human relation, hubungan manusiawi. Orang tua, anak, teman. Jadi saya ingin menghidupkan lagi permainan-permainan tradisional di Kota Bogor,” ungkapnya.
Dalam Invitasi Ortrad tersebut, terdapat sejumlah permainan tradisional yang dipertandingkan, di antaranya dagongan, terompah panjang, egrang, sumpitan dan permainan tradisional lainnya.
Anas menyebut antusiasme peserta cukup tinggi. Dari sekitar 30 SD, jumlah peserta yang terlibat mencapai kurang lebih 522 pelajar.
”Jumlah totalnya itu kurang lebih 522 peserta, dari kurang lebih sekitar 30 SD se-Kota Bogor,” ujarnya.
Peserta berasal dari berbagai tingkatan kelas, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari agenda olahraga tradisional yang digelar secara berjenjang.
Anas mengatakan, ke depan pihaknya juga menyiapkan agenda lanjutan hingga tingkat provinsi. Ia menyebut kegiatan serupa pernah digelar sebelumnya, namun kini kembali dihidupkan dengan konsep yang lebih menarik agar peserta semakin bersemangat.
”Dulu ada, tapi saat ini kita benahi agar lebih menarik dan peserta lebih semangat,” katanya.
Ia menambahkan, tujuan utama kegiatan bukan semata-mata mengejar prestasi. Ada nilai edukasi dan sosial yang ingin dibangun melalui permainan tradisional.
”Target filosofinya mereka bisa bermain dengan alam. Atau dia memperkenalkan ke teman-temannya olahraga ini. Main sumpit, main egrang. Target kedua, anak-anak jadi sehat,” jelas Anas.
Selain itu, para peserta yang memiliki kemampuan dapat dipersiapkan untuk mengikuti festival olahraga tradisional tingkat Jawa Barat yang digelar Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).
”Target ketiga, memang ini suka ada festival tingkat Jawa Barat. Festival KORMI tingkat Jawa Barat. Dipertandingkan di Jawa Barat ini,” ujarnya.
Untuk memberikan motivasi kepada peserta, panitia juga menyiapkan hadiah bagi para juara. Juara pertama mendapatkan hadiah Rp10 juta, juara kedua Rp7,5 juta, dan juara ketiga Rp5 juta.
Anas menjelaskan, jenjang kompetisi olahraga tradisional tersebut berbeda dengan olahraga prestasi pada umumnya. Setelah tingkat Kota Bogor, peserta dapat diarahkan menuju tingkat provinsi.
”Nanti ada provinsi. Tapi sampai provinsi saja tidak ada nasional. Karena permainan di nasional itu pasti berbeda, pasti berbeda permainan,” tandasnya. (3RY)













