Juruketik.com – Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menyambut kedatangan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake di Kota Bogor menjelang pelaksanaan Kirab Milangkala Tatar Sunda yang akan digelar pada Jumat, 8 Mei 2026.
Mahkota Binokasih dibawa langsung dari Sumedang oleh Lily Djamhur Soemawilaga selaku Mahapatih Keraton Sumedang Larang dan diserahkan kepada Pemerintah Kota Bogor sebagai bagian dari rangkaian kirab budaya tersebut.
“Alhamdulillah, hari ini yang sudah lama ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Mahkota Binokasih Sang Hyang Paké, sebuah simbol Kerajaan Pajajaran yang dahulu menjadi mahkota para raja Sunda, kini hadir di Bogor,” ujar Dedie Rachim, Kamis (7/5/2026).
Dedie menjelaskan, Mahkota Binokasih merupakan benda bersejarah asli yang terbuat dari emas 18,8 karat dengan berat sekitar delapan kilogram.
Kehadiran mahkota tersebut di Bogor disebut sebagai momentum langka dan istimewa, mengingat belum semua daerah di Jawa Barat mendapat kesempatan menjadi lokasi singgah mahkota tersebut.
Menurutnya, kedatangan Mahkota Binokasih ke Bogor tidak terlepas dari hubungan historis yang erat antara Bogor dan Sumedang sejak masa Kerajaan Pajajaran.
“Sejarah mencatat bahwa saat Kerajaan Pajajaran berpindah ke Sumedang, berbagai artefak dan prasasti bersejarah turut dibawa dan kini tersimpan di Keraton Sumedang Larang,” katanya.
Dedie menyebut kehadiran Mahkota Binokasih menjadi sebuah kehormatan dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda. Rencananya, mahkota tersebut akan diarak dalam kirab budaya yang digelar setelah waktu Maghrib.
“Tentu bukan hanya mahkota, tetapi juga rangkaian lainnya sudah dipersiapkan. Mahkota ini menjadi simbol bahwa peradaban Sunda sangat luar biasa,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil penelitian Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Mahkota Binokasih berasal dari masa yang sejaman dengan Kerajaan Majapahit.
Selain mahkota, kirab budaya tersebut juga akan dimeriahkan dengan kehadiran tiga kereta kencana yang akan mengikuti parade Milangkala Tatar Sunda di Kota Bogor.
Dedie berharap kegiatan budaya tersebut mampu mempererat tali silaturahmi masyarakat Jawa Barat sekaligus memperkuat semangat kebersamaan masyarakat Sunda.
“Sebagai orang Sunda, tentu kita merasa bahagia bisa berkumpul dengan saudara dan keluarga. Mudah-mudahan ini semakin memperkuat komitmen kita agar masyarakat Sunda maju, dan Indonesia juga maju,” pungkasnya.
Tinjau Persiapan Kirab Budaya
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim meninjau langsung persiapan pelaksanaan Kirab Milangkala Tatar Sunda yang akan digelar di Kota Bogor pada Jumat, 8 Mei 2026.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan budaya tersebut berjalan lancar, termasuk kesiapan jalur kirab dan lokasi prosesi adat.
Dalam peninjauan tersebut, Dedie didampingi tim dari Pemerintah Kota Bogor untuk mengecek berbagai aspek teknis di lapangan.
Ia menyebut masih ada beberapa catatan kecil yang perlu dibenahi, terutama terkait kebersihan dan akses jalan yang akan dilalui kereta kencana dalam kirab budaya tersebut.
“Kami terus mengoptimalkan segala persiapan agar hasilnya lebih baik lagi,” ujarnya Kamis, 7 Mei 2026.
Pada rangkaian kegiatan tersebut, Dedie juga menerima Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang menjadi bagian penting dalam prosesi Milangkala Tatar Sunda.
Menurutnya, momentum budaya ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi simbol kuatnya hubungan batin, kekerabatan, dan persaudaraan masyarakat Sunda di Jawa Barat.
“Insya Allah ini akan menjadi spirit bagi kita semua bahwa Jawa Barat memiliki hubungan batin dan persaudaraan yang kuat,” katanya.
Dedie menilai semangat kebersamaan dan nilai-nilai kesundaan harus terus digelorakan, khususnya kepada generasi muda.
Sebab, pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pembangunan karakter dan pemahaman sejarah masyarakatnya.
Ia menegaskan, generasi muda perlu memahami akar budaya dan sejarahnya agar memiliki landasan filosofi dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghormati orang tua, menjaga lingkungan, dan memahami asal-usul budaya Sunda.
“Pembangunan itu bukan hanya soal infrastruktur, manusianya juga harus dibangun. Manusia harus memiliki landasan filosofi dan nilai karakter,” jelasnya.
Dedie juga menjelaskan filosofi di balik berbagai atribut budaya Sunda yang digunakan dalam kirab, seperti totopong, baju pangsi, kujang, hingga Mahkota Binokasih.
Menurutnya, kata “Binokasih” sendiri mengandung makna kasih sayang yang harus dimiliki setiap pemimpin di Jawa Barat.
“Setiap pemimpin harus memiliki nilai kasih sayang agar alam, lingkungan, dan manusianya dapat dibina dengan hubungan yang baik,” ungkapnya.
Selain membahas kirab budaya, Dedie turut menyinggung rencana pembangunan museum sejarah Pajajaran di Kota Bogor.
Saat ini, kata dia, prosesnya masih dalam tahap penyusunan timeline sejarah yang disiapkan tim dari Universitas Padjadjaran.
Timeline tersebut akan memuat perjalanan sejarah mulai dari masa prasejarah, Tarumanegara, Kerajaan Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang dan Cirebon dalam satu alur cerita yang kuat.
Menurut Dedie, salah satu artefak utama yang akan menjadi pusat perhatian museum adalah Prasasti Batutulis yang memiliki nilai sejarah penting terkait penobatan raja Pajajaran dan filosofi kesundaan seperti silih asah, silih asih, dan silih asuh.
Ia menambahkan, koleksi museum nantinya akan terus berkembang secara dinamis melalui penelitian maupun kontribusi masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Pajajaran.
“Yang penting kita sudah memiliki pijakan berupa benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan Pajajaran,” pungkasnya. (3RY)









