Juruketik.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan (Unpak) menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Bogor, Rabu (17/6/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan terkait kebijakan pemerintah, pengelolaan anggaran negara, pendidikan, hingga kondisi perekonomian nasional yang dinilai membutuhkan perhatian serius.
Ketua BEM Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan periode 2026-2027, Sabil Ryanzada, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa.
Baca Juga: Demo Sopir Angkot di Kota Bogor Berujung Laporan Polisi, Petugas Dishub Kena Bogem
Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan aspirasi masyarakat ketika melihat adanya kebijakan yang dianggap belum berjalan sesuai harapan.
“Hari ini kami turun ke jalan bukan tanpa sebab dan bukan tanpa alasan. Kami melihat kondisi Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” ujar Sabil saat menyampaikan orasi di lokasi aksi.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan beberapa tuntutan utama, salah satunya meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap sejumlah kebijakan dan regulasi yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat.
Baca Juga: PKL Pasar Bogor Tolak Digusur! Gelar Demo, Pemkot Luluh Izinkan Jualan hingga Tahun 2026
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mereka menilai sejumlah program pemerintah perlu dikaji kembali agar anggaran yang digunakan benar-benar memberikan manfaat yang maksimal dan tepat sasaran.
“Kami melihat ada program-program yang kesannya menjadi pemborosan APBN. Anggaran negara seharusnya bisa dialihkan untuk program yang lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Sabil.
Salah satu program yang menjadi sorotan adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Sabil, program tersebut masih perlu dievaluasi dari sisi penerima manfaat maupun tata kelola pelaksanaannya.
“Program yang dibuat pemerintah harus mempertimbangkan tiga hal, yaitu tepat sasaran, tepat guna, dan memiliki nilai manfaat bagi penerimanya. Kalau tidak memenuhi itu, maka perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh,” ungkapnya.
Tak hanya persoalan anggaran, mahasiswa juga menyampaikan kekhawatiran terkait kondisi investasi dan lapangan kerja di Indonesia. Mereka menilai semakin terbatasnya peluang kerja berpotensi memicu berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.
“Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan karena lapangan kerja semakin terbatas. Kondisi seperti ini bisa memicu persoalan lain di masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa turut menyuarakan tuntutan terkait pendidikan gratis. Mereka menilai pemerintah memiliki kapasitas anggaran untuk meningkatkan akses pendidikan yang lebih terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.
“Kami ingin pemerintah menghitung kembali jumlah pelajar dan mahasiswa di Indonesia dengan kebutuhan biaya pendidikan. Menurut kami, anggaran negara masih mampu mendukung pendidikan yang lebih terjangkau,” kata Sabil.
Meski menyampaikan berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah, Sabil menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian mahasiswa terhadap masa depan bangsa.
“Kami tidak anti terhadap pemerintah. Kami juga mencintai negeri ini. Namun ketika kecintaan kami dibalas dengan kebijakan yang tidak sesuai harapan masyarakat, maka kami memilih menyampaikan aspirasi melalui aksi turun ke jalan,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah membuka ruang dialog yang lebih luas dengan mahasiswa dan bersedia mendengarkan berbagai aspirasi yang disampaikan.
“Kami tidak memiliki persoalan dengan aparat keamanan. Kami hanya berharap pihak pemerintah yang berada di dalam Istana dapat turun dan mendengarkan langsung aspirasi kami,” tuturnya.
Di tengah aksi, sempat terjadi insiden pembakaran speaker yang memicu perhatian peserta aksi. Menanggapi kejadian tersebut, Sabil menyebut tindakan itu diduga dilakukan oleh pihak yang tidak dikenal dan meminta seluruh mahasiswa tetap menjaga kondusivitas.
“Tadi kami mencoba menyampaikan aspirasi dengan cara lain, tetapi ada beberapa pihak yang tidak saya kenal kemudian melakukan pembakaran. Saya meminta teman-teman mahasiswa tidak terprovokasi dan tidak terbawa arus yang dapat menyebabkan kekacauan,” jelasnya.
Menurutnya, beberapa peserta aksi sempat terdampak akibat insiden tersebut. Namun pihak mahasiswa telah menyiapkan tim medis untuk memberikan penanganan.
“Tadi ada beberapa teman yang terkena dampak dari kejadian itu. Kami sudah menyiapkan tim medis untuk membantu mereka. Sejauh ini kondisinya masih aman,” pungkasnya. (3RY)



























