Juruketik.com – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Bogor mengalami kenaikan tajam di tengah kewaspadaan terhadap dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mencatat sebanyak 1.824 kasus ISPA hingga 8 September 2026, atau bertambah 352 kasus dibandingkan sehari sebelumnya.
Meski terjadi lonjakan kasus, Dinkes Kota Bogor belum memastikan adanya hubungan langsung antara peningkatan ISPA dengan paparan abu vulkanik. Kaitan tersebut masih memerlukan kajian medis lebih mendalam.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Sampai Kabupaten Bogor, Dinkes Ungkap Bahayanya Bagi Kesehatan
Kepala Dinkes Kota Bogor, Erna Nuraena menyampaikan, bahwa hubungan antara kenaikan kasus ISPA dengan abu vulkanik masih membutuhkan kajian medis lebih lanjut.
“Masih memerlukan kajian medis lebih mendalam,” kata Erna dalam keterangannya.
Pemantauan terhadap sejumlah penyakit yang berpotensi mengalami perubahan akibat kondisi lingkungan telah dilakukan sejak 7 September 2026 melalui seluruh puskesmas di Kota Bogor.
Baca Juga: Waspada Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Wali Kota Bogor Minta Warga Tak Abaikan 5 Hal Ini
Selain ISPA, Dinkes menemukan kenaikan pada beberapa jenis penyakit. Kasus asma tercatat meningkat dari 25 menjadi 29 kasus, sedangkan dermatitis atau iritasi kulit bertambah dari 70 menjadi 74 kasus.
Sementara itu, kasus konjungtivitis atau iritasi mata masih berada di angka 36 kasus. Untuk pneumonia justru mengalami penurunan, dari 35 menjadi 30 kasus. Begitu pula dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang turun dari 31 menjadi 29 kasus.
Jika seluruh penyakit yang masuk dalam pemantauan dihitung, terdapat 2.022 pasien pada 8 September. Jumlah tersebut meningkat 353 kasus dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.669 pasien.
Dinkes menilai perubahan jumlah kasus tidak serta-merta dipengaruhi satu faktor. Kondisi cuaca, daya tahan tubuh, hingga perilaku dan kondisi masing-masing individu juga dapat berpengaruh terhadap munculnya gangguan kesehatan.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota Bogor telah melakukan sejumlah upaya mitigasi. Salah satunya melalui distribusi sekitar 190.000 masker kepada masyarakat maupun sejumlah perangkat daerah.
Dinkes Kota Bogor juga mengeluarkan Surat Edaran pada 8 September 2026 yang ditujukan kepada fasilitas pelayanan kesehatan. Surat tersebut menjadi bagian dari langkah kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak kesehatan akibat abu vulkanik.
Selain memperkuat pemantauan, Dinkes memastikan ketersediaan sejumlah logistik medis. Persediaan tersebut antara lain masker N95 atau KN95, inhaler atau bronkodilator, tetes mata steril, tabung oksigen, serta cairan infus.
Pemantauan kondisi kesehatan masyarakat pun dilakukan setiap hari dengan melibatkan puskesmas, rumah sakit, klinik pratama, hingga klinik utama.
Melalui pemantauan tersebut, Pemkot Bogor berupaya mengetahui perkembangan kasus secara cepat sekaligus memastikan fasilitas kesehatan siap menghadapi apabila terjadi peningkatan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi udara dan lingkungan. (3RY)













