Juruketik.com – Kasus stunting di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor menunjukkan penurunan signifikan.
Dari sebelumnya tercatat 49 anak mengalami stunting atau berisiko stunting, kini jumlah tersebut turun menjadi sembilan anak setelah dilakukan berbagai intervensi melalui kolaborasi pemerintah, yayasan, kader kesehatan, dan para donatur.
Penurunan tersebut disampaikan dalam kegiatan apresiasi Program Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPST) Kota Bogor, di mana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Yayasan Harapan Bangsa Lentera Mandiri (HBLM) atas dukungan dan kerja sama dalam membantu penanganan stunting.
Baca Juga: 63 Anak di Kecamatan Bogor Tengah Bebas Stunting Berkat Program Basuh Anting
Adapun, Penghargaan tersebut diserahkan langsung Wakil Wali Kota Bogor sekaligus Ketua PPPST Kota Bogor, Jenal Mutaqin di Ruang Yerusalem Lantai 4 GAYA Bethlehem, Jalan Suryakencana, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Selasa 30 Juni 2026.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin mengatakan, Yayasan HBLM merupakan salah satu mitra yang konsisten membantu pemerintah dalam upaya pengentasan dan pencegahan stunting melalui dukungan para donatur dan dermawan.
”Setelah kami melakukan tracking, yayasan ini sudah berkiprah sejak 2017 memberikan bantuan kebutuhan dasar bagi balita dan anak-anak di sekitar kelurahan. Hari ini ada 30 balita yang menjadi sasaran program,” kata Jenal Mutaqin.
Baca Juga: Ikhtiar Pemkot Bogor Menurunkan Angka Stunting
“Ini menjadi ikhtiar sekaligus syiar bahwa Kota Bogor serius menangani stunting, tidak hanya oleh Pemkot, tetapi juga didukung para donatur yang peduli dan konsisten,” sambungnya.
Ia menegaskan, kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Menurutnya, para donatur memberikan bantuan secara rutin setiap bulan sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh keluarga penerima.
Untuk memperkuat pengawasan, Pemkot Bogor juga memperkenalkan aplikasi Bebas Stunting (BESTI) yang mulai dikembangkan sejak Januari 2026.
Melalui aplikasi tersebut, yayasan dan para donatur dapat memantau perkembangan setiap anak penerima bantuan, mulai dari berat badan, status gizi, lingkar kepala hingga tinggi badan secara berkala melalui telepon genggam masing-masing.
”Kami akan memberikan akun kepada yayasan dan para donatur agar bisa memantau langsung perkembangan anak-anak yang dibantu setiap bulan. Dengan begitu intervensi bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” jelasnya.
Jenal mengungkapkan, berdasarkan hasil penimbangan balita sepanjang Januari hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 1.491 kasus stunting di Kota Bogor. Dari jumlah tersebut, sekitar 512 anak telah keluar dari kategori stunting setelah mendapatkan berbagai intervensi.
Ia berharap hasil penimbangan balita pada Agustus mendatang menunjukkan penurunan angka yang lebih signifikan. Namun demikian, perhatian juga harus diberikan kepada keluarga berisiko stunting agar tidak muncul kasus baru.
”Target kita adalah Zero New Stunting. Jangan sampai jumlah anak yang sudah berhasil keluar dari kategori stunting bertambah, tetapi di sisi lain muncul kasus-kasus baru yang belum terdeteksi,” ungkap dia.
“Karena itu diperlukan peran aktif lurah, kader, dan Bunda Peduli Stunting untuk segera melaporkan apabila menemukan balita yang membutuhkan intervensi,” tegasnya.
Sementara itu, Lurah Babakan Pasar, Kartini Wulandari mengatakan, kegiatan tersebut dirancang secara komprehensif dan tidak hanya sebatas penyerahan penghargaan.
Selain pemberian apresiasi kepada Yayasan HBLM, kegiatan juga diisi dengan talk show bertema ‘Pentingnya Pengasuhan dan Nutrisi Tepat Menuju Generasi Emas Tahun 2045’ yang menghadirkan Psikolog Klinis Dinas Kesehatan Kota Bogor, Catharina Nidya Putri.
Dalam kesempatan tersebut, pihak kelurahan turut menyalurkan paket bantuan berupa susu, telur, dan buah-buahan kepada 30 penerima manfaat yang terdiri atas orang tua, anak stunting, ibu hamil, keluarga berisiko stunting (KRS), serta calon pengantin.
Kartini mengungkapkan, sinergi antara pemerintah, Yayasan HBLM, komunitas, tokoh masyarakat, dan kader kesehatan telah memberikan hasil nyata dalam menurunkan angka stunting di wilayahnya.
”Berdasarkan data awal, jumlah anak stunting atau rawan stunting di Kelurahan Babakan Pasar sempat mencapai 49 anak. Angka itu kemudian turun menjadi 13 anak, dan berdasarkan hasil penimbangan terakhir pada Februari 2026 kini tersisa 9 anak,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Kota Bogor berharap seluruh elemen strategis di Kecamatan Bogor Tengah, mulai dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk KB), Puskesmas Belong, hingga sektor swasta seperti Hotel 101, dapat terus bersinergi melakukan jemput bola apabila ditemukan balita yang membutuhkan pemenuhan gizi dan penanganan lebih lanjut. (3RY)



























